Saya yakin profil guru yang akan saya ceritakan berikut adalah profil minoritas guru di negeri ini. Tapi seperti bunyi pepatah “akibat nila setitik rusak susu sebelanga” maka cerita ini mungkin akan menjadi noda di dunia pendidikan kita. Sepanggal cerita ketika saya sempat ngobrol dengan seorang guru BK di sebuah kota kecil di Jawa Timur.
Saya (S) : “Wah, tentu ibu punya pengalaman yang menarik ya, selama jadi guru BK?”
Guru (G) : “Iya…pernah ada murid lelaki saya yang curhat karena baru menghamili pacarnya. Kebetulan orang tua murid saya tidak setuju dengan hubungan mereka. Apalagi akhirnya pacarnya hamil. Kasian”
S : “Wah…lalu gimana, bu?”
G : “Iya…murid saya itu datang sendiri menghadap saya. Dia cerita bingung sekali. Murid saya itu masih ingin meneruskan sekolah. Tapi di sisi lain kan pacarnya sudah hamil. Orang tua murid saya juga marah sekali. Mereka tidak mau anaknya menikah dulu karena belum tamat sekolahnya. Murid saya itu pengen pacarnya menggugurkan kandungannya saja. Biar murid saya dan pacarnya bisa meneruskan sekolah. Dia mendatangi saya sekalian untuk minta saran”
S : “Wah…sampai seperti itu ya? Lalu ibu bilang apa sama muridnya itu?”
G : “Saya juga merasa prihatin sekali. Sayang sekali kalau mereka harus putus sekolah gara-gara masalah ini. Apalagi niat mereka untuk sekolah masih besar. Jadi saya sarankan saja begini. Karena saya pernah dengar sih, nanas efektif untuk menggugurkan kandungan. Jadi saya bilang pada murid saya, buat mencoba menggunakan nanas. Yaa…saya tawarkan untuk mencarikan nanas muda sekalian.”
S : (spontan melotot dan takjub) “Lho…???”
G : “Iya..kan kasian mereka. Mereka masih muda. Masa depannya masih panjang. Kalau harus berhenti sekolah juga sayang. Jelas kan…orang tuanya juga tidak merestui”
S : “Terus gimana dengan bayinya, bu? Apa gak ada yang mikirin nasib bayinya?”
G : “Ya…gimana lagi. Kasian sekali murid saya itu. Dia masih ingin sekolah.”
S : membaca istighfar dalam hati….



December 25th, 2009 at 1:47 pm
Salam,
mengejutkan ketika membaca kutipan ” …adi saya bilang pada murid saya, buat mencoba menggunakan nanas. Yaa…saya tawarkan untuk mencarikan nanas muda sekalian.”
Semoga kisah ini menjadi hikmah bahwa sepelik apapun masalah, seorang guru harus menjunjung nilai moral, titik.
Sulit memang tapi harus terwujudkan.
December 26th, 2009 at 3:03 pm
Salam juga Mbak Rina
setuju mbak…memang pahit tapi ternyata nyata…dan semoga ini cuma cerita satu-satunya
January 25th, 2010 at 11:52 am
belum tau jeng mya…tp jangan dicoba yah, ntar melanggar kode etik kedokteran…hehehehe